• December 2016
    M T W T F S S
    « Nov    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Pages

  • Blog Stats

    • 22,684 hits
  • Kategori

  • Koka

Negeri Allang

Sejarah Perjalanan Sembilan Keluarga Sehingga Terbentuknya Negeri Allang…!!

Sembilan keluarga yang pada akhirnya dikenal dengan nama Pattasiwa Allane berasal dari berbagai tempat di kepulauan Maluku Utara, antara lain: Tidore, Ternate, Bacan, Obi dan Halmahera.

Secara bergelombang keluarga-keluarga datang dan bergabung di pulau Bacan dengan maksud yang sama yaitu ingin berpindah dari tempat asalnya mencari tempat yang lain demi anak cucu dikemudian hari.

Pada mulanya hanya delapan keluarga yang sudah bersepakat masing-masing : Sabandar, Soumahu, Nussy, dan Patty yang datang dari Tidore dan Ternate bertemu dengan keluarga Huwae, Pelasula, Lopumeten dan Pelahule yang juga datang dari Bacan dan Obi, tetapi pada saat-saat persiapan keluarga ini, datang lagi keluarga Siwalette dan minta bergabung.
Diantara sembilan keluarga tersebut terdapat 4 (empat) orang Kapitan masing-masing:
1. Kapitan Maheri dari Sabandar
2. Kapitan Hatu Rosu dari Siwalette
3. Kapitan Adam Tapilatu dari Huwae
4. Kapitan Samala dari Nussy

Karena pada saat itu sering terjadi kekacauan di sekitar tempat tinggal keluarga-keluarga para datuk, maka rencana perpindahan sembilan keluarga diatur dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui oleh para perampok dan pembajak dalam upaya mempersiapkan alat angkutan dan sarana perlengkapannya yang disebut dengan nama “Masohi” serta tempat pembuatannyapun sangat rahasia.

setelah selesainya pembuatan alat angkutan seperti sopa-sopa dan perbekalan yang diperlukan, sembilan keluarga mulai mengadakan kembali suatu musyawarah yang sangat menentukan perjalanan dan keselamatan keluarga. Dan dalam musyawarah tersebut, para datuk leluhur memutuskan demi keutuhan dan keselamatan perlu ditunjuk seorang pemimpin yang mampu membawa dan bertanggungjawab atas keselamatan perjalanan sembilan keluarga. Dan semua keluarga harus taat dan setia serta tunduk kepada semua ketentuan yang diberikan.

Akhirnya melalui pertemuan dan musyawarah tersebut diputuskan menunjuk Kapitan Maheri dari Marga Sabandar sebagai pemimpin rombongan dibantu dengan Kapitan Hatu Rosu dari Marga Siwalette, yang diberi nama Kapitan Laut dan Kapitan Darat. Dengan terpilihnya Kapitan Maheri sebagai pemimpin rombongan maka tibalah saatnya keluarga para datuk akan melakukan suatu perjalanan panjang dengan berbagai tantangannya.

Kapitan Maheri dalam memikul tanggungjawab memimpin sembilan keluarga dengan berbagai latar belakang kehidupan mereka menyadari semua keluarga sebelum berangkat tinggalkan Maluku Utara terlebih dahulu harus dipersatukan dengan ikatan sumpah yang keluar dari ketulusan hati agar tetap bersatu bilamana terjadi ancaman dan hambatan dari pihak lain maupun dari dalam keluarga sendiri selama dalam perjalanan.

Sumpah itu disebut “K a h o r i” yang mempunyai arti bahwa tidk ada perbedaan dalam derajat hidup sembilan keluarga, semua adalah satu keluarga se-ibu se-bapak, hidup saling mengasihi bersatu sampai titik darah penghabisan, berjuang melawan setiap ancaman dengan semangat pantang mundur, walau terpisah dalam perjalanan tetapi tetap berusaha untuk bersatu kembali. Dengan air sumpahan yangtelah diminum dan ikrar bersama semanagt Kahori, maka rombongan mulai tinggalkan tempat asalnya Maluku Utara menuju ke Selatan.

Tepat di Tahun 1452 rombongan sembilan keluarga dibawah pimpinan Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu mulai berangkat dengan tujuan melalui Selat Misol karena menurut dugaan jalan yang ditempuh tersebut akan luput dari serangan bajak laut yang sedang mengganas di sepanjang perairan Maluku Utara. Dengan anugerah dan Kasih Sayang Tuhan Yang Maha Esa perjalanan sembilan keluarga melalui selat Misol disertai angin dan arus yang tenang maka satu demi satu rombongan ini mulai mendarat di pesisir pantai Seram Utara dan singgah disuatu tempat yang kemudian diberi nama oleh rombongan keluarga sembilan “Wapai” (sekarang Wahai).

Ditempat ini, atas perintah pimpinan rombongan untuk tinggal sementara waktu guna mencari makanan bagi keluarga. Justru karena ditempat ini tidak terdapat seorang penduduk didalamnya, hingga kesunyian tempat tersebut membuat keluarga sembilan bertanya-tanya “Wapai” artinya sekarang kita berada dimana. dengan pertanyaan ini, nama dari tempat itu sudah disebut dengan nama “Wahai”. Pertanyaan keluarga tersebut disebabkan sekitar tempat yang mereka diami tidak kelihatan suatu apapun apalagi manusianya, sehingga tanda-tanda hidup seolah-olah tidak ada sama sekali. Itulah sebabnya disebut dengan Wapai. karena tempat ini sunyi dan tidak ada seorang manusiapun maka keluarga sembilan hanya tinggal untuk sementara waktu dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Disaat-saat para datuk leluhur sedang mencari makanan untuk keluarga, turunlah rombongan penduduk asli Seram Timur, dengan tujuan akan menyerang para datuk leluhur kita, namun dengan keberanian dan rasa persaudaraan, para datuk leluhur berhasil mengajak penduduk asli tersebut untuk berdialog menjalin rasa persaudaraan.

Dengan berhasilnya ajakan tersebut, penduduk asli Seram Timur menjelaskan bahwa pulau seram terbagi atas dua bagian yaitu: Seram Timur danSeram Barat. Seram Timur dikuasai oleh Pattalima dan Seram Barat dikuasai oleh Pattasiwa. Setelah keluarga sembilan tinggal untuk beberapa waktu guna mencari makanan bagi keluarganya, terjadi sebuah persoalan antara penduduk asli dengan keluarga sembilan yang menjurus kepada kekerasan, maka oleh pertimbangan datuk leluhur adalah lebih baik meninggalkan tempat tersebut daripada harus terjadi permusuhan yang dapat mengakibatkan korban jiwa. Akhirnya keluarga sembilan dan para datuk leluhur kita menlanjutkan perjalanan dengan menyusur pantai dan tinggal sementara pada beberapa tempat seperti : Tehang buli-buli, Hulung Kasi, dan tiba di suatu tempat yang kemudian diberi nama Taniwa (sekarang disebut Taniwel). Kini perjalan datuk leluhur kita telah memakan waktu 2 (dua) Tahun (1452-1454).

Di Taniwa (Taniwel) para datuk leluhur memang merasa senang dan puas karena tempatnya cukup baik. Namun mengingat tempat inipun masih berada dalam petuanan kekuasaan warga Pattalima yang sering berkeliaran di sekitar tempat tinggal keluarga sembilan, yang sewaktu-waktu dapat mengundang kesalahpahaman, maka diputuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menyusur pesisir pantai menuju ke arah selatan dan tiba di sebuah tanjung yang disebut Tanjung Kawa. Pimpinan rombongan melihat dihadapan mereka terbentang sebuah pulau kecil, sehingga ia memerintahkan agar haluan menuju pulau tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama pulau “Buano”. Rombongan keluarga sembilan berhenti dan menetap di pulau ini untuk bekerja dan mencari makanan selama beberapa tahun. Perjalanan keluarga sembilan telah memakan waktu 7 (tujuh) tahun (1459).

Atas upaya pimpinan rombongan sembilan keluarga datuk leluhur telah mencapai kepuasan, karena ditempat itu banyak diperoleh makanan dan berkat yang berkemlimpahan. Akan tetapi sering pula timbul keresahan bila musim panas tiba karena sulit mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Maka setelah diadakan musyawarah, pimpinan rombongan memerintahkan sembilan keluarga untuk mencari tempat lain yang dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi kemuarga sembilan. Sebelum keluarga sembilan tinggalkan tempat itu atas persetujuan bersama melalui suatu musyawarah maka tempat itu diberi nama “Hato Allang Buano”, dan nama tersebut masih tetap disebut hingga sekarang.

Selanjutnya rombongan keluarga sembilan melanjutkan perjalanan menyusur pesisir pantai pulau Seram. Keberangkatan keluarga sembilan dibawah pimpinan Kapitan Maheri Sabandar dan Kapitan Hatu Rosu di bantu Kapitan Samala Nussy dan Kapitan Adam Tapilatu Huwae, mereka singgah di suatu tempat di jazirah/petuanan Huamual dan tempat itu diberi nama Hanunu yang adalah bagian dari Pattasiwa Huamual. Ditempat ini atas perintah pimpinan rombongan maka keluarga sembilan berusaha mencaru makanan bagi keluarga untuk perjalanan selanjutnya. Namun disaat-saat keluarga sembilan sedang berusaha mencari makanan dan air minum sebagai persiapan perjalanan selanjutnya, tiba-tiba mereka dihadang oleh sekelompok penduduk asli Seram Barat dari Pattasiwa Huamual atau Alifuru Seram Barat dan mengancam akan diserang, karena mereka tidak ingin orang lain yang bukan penduduk asli masuk dalam daerah petuanan mereka.

Para datuk keluarga sembilan memang menyadari hal ini maka Kapitan Maheri selaku pimpinan rombongan berusaha menengahi persoalan dengan memberi penjelasan dan membeujuk penduduk asli bahwa keluarga sembilan tidak bermaksud tinggal dan berdiam di tempat milik mereka, karena keluarga sembilan sedang dalam perjalanan dan singgah sebentar utnuk mencari makanan dan sesudah itu akan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pesisir pantai Seram Barat.

Namun semua usaha yang diberikan kepada penduduk asli Seram Barat (Alifuru) tidak digubris bahkan mereka tidak mengenal kompromi dengan setiap orang yang masuk dalam daerah milik Pattasiwa Huamual tanpa ijin harus berhadapan dengan kekuatan pasukan perang Pattasiwa Huamual untuk berperang sampai hidup atau mati.

Berdasarkan jawaban pimpinan Pattasiwa Huamual bahwa tidak ada maaf dan perundingan damai dengan Datuk Leluhur, maka sungguhpun berat bagi para datuk akan tetapi demi keselamatan keluarga sembilan maka Kapitan Maheri selaku pimpinan rombongan menyatakan menerima ancaman Pattasiwa Huamual dan siap berperang hingga tetesan darah terakhir dimanapun. Akhirnya waktu dan tempat ditentukan, dimana Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu dibantu Kapitan Adam Tapilatu Huwae dan Kapitan Samala Nussy dan dengan semangat Sumpah Kahori yang membakar jiwa keberanian para datuk leluhur maka mereka berangkat menuju medan perang yang terletak di suatu tempat bernama Kota Hato, kini benteng pertempuran itu disebut Kota Halu.
Pasukan Keluarga Sembilan dibawah pimpinan Kapitan Maheri memberi perintah “Serang”!!! dan terjadilah suatu perang tanding dengan pasukan Pattasiwa Huamual Alifuru yang sangat dahsyat dimana korban demi korban berjatuhan di pihak Pattasiwa Huamual sehingga hanya tersisa beberapa orang dari pasukan Pattasiwa Huamual yang harus berhadapan dengan keganasan pasukan keluarga Siwalima, tiba-tiba teriakan pimpinan pasukan Pattsiwa Huamual yang menyatakan : “Semua pasukan perang meletakkan senjata, Pasukan Pattasiwa Huamual menyerah kalah dan pasukan pendatan dinyatakan menang, dan pimpinan pasukan Pattasiwa Huamual siap menjadikan keluarga sembilan sebagai adik kandung dan menerima Keluarga Sembilan untuk memilih tempat disepanjang pantai Huamual sebagai milik dan tempat tinggal selanjutnya”.

Dengan pernyataan ini Pattasiwa Huamual memberikan suatu tanda jasa mengikat hubungan persaudaraan antara kedua marga besar yang diberikan kepada pimpinan tertinggi keluarga sembilan Kapitan Maheri dengan Julukan “PATTASIWA ALLANE”. Itulah nama yang pertama diberikan kepada Kapitan Maheri selaku tanda terima kasih dan ikatan persaudaraan antara dua keturunan yang berbeda harkat dan martabatnya sebagai wujud cinta kasih antara sesama ALLANE dan HUAMUAL.

Dengan ikatan persaudaraan dua keluarga besar Pattasiwa Allane dan Pattasiwa Huamual, maka rombongan Pattasiwa Allane dilepaskan dalam suatu upacara adat, dimana keluarga sembilan ini akan melanjutkan perjalanan mereka. Akhirnya tibalah keluarga sembilan dan datuk leluhur kita di suatu tempat yang kemudian diberi nama “Assauri”. Sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama “Allang Asaude” yang mempunyai arti “Satu Himpunan atau Satu Kumpulan” kata Assauri terdiri dar dua suku kata yakni : Assa dan Uri. Assa berarti Satu dan Uri berarti Kumpulan atau kesatuan.

Nama Assauri yang diberikan oleh datuk leluhur kita terhadap tempat tersebut selain kemenangan gemilang yang diperoleh dalam peperangan di benteng kotahato, juga sebagai wujud sumpah setia keluarga sembilan dibawah pimpinan Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu dengan sumpah “Kahori”. Artinya biar apapun yang terjadi kita adalah satu keluarga yang tidak dapat dipisahkan untuk selama-lamanya. Keluarga-keluarga diperintahkan untuk membuat rumah tempat tinggal dan berusaha mencari dan bekerja demi jaminan hidup keluarga masing-masing.

Dibawah pimpinan Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu datuk-datuk mulai bekerja untuk mencari makan bagi keluarga. Mereka hidup dengan tenang dibawah pimpinan yang bijaksana, namun dari waktu ke waktu terjadi lagi keresahan dalam keluarga. Mereka merasa tidak senang sebab tempat yang kini datuk leluhur kita tinggal terlalu dekat dengan benteng pertempuran Kotahato yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi lagi kerusuhan dengan sisa-sisa pasukan Pattasiwa Huamual yang tidak ikut berperang dalam pertempuran di Benteng Kotahato. Maka diadakan kembali musyawarah lalu diambil pertimbangan dan memutuskan kalau memang demikian baiklah kita lanjutkan kembali perjalanan menuju pesisir Pantai Huamual untuk mencari tempat yang lebih baik demi anak cucu keluarga sembilan.

Akhirnya keluarga sembilan berangkat melalui beberapa tempat seperti Ulatet, Waisala, Tanah Merah sampai ujung Pintu Haya (pintu Tanjung Huamual). Perlu diingat bahwa tatkala rombongan para datuk tiba di Ulatete yang waktu itu belum diberi nama oleh para datuk kita terhadap tempat itu, telah terjadi suatu peristiwa berdarah dengan datuk kita, karena rombongan keluarga sembilan diserang dengan tiba-tiba oleh sisa-sisa keluarga Pattasiwa Huamual yang tidak turut dalam pertempuran di benteng Kotahato dan tidak turut dalam perjanjian melalui suatu sumpah setia yang pernah diikrarkan oleh Pattasiwa Huamual dan Pattasiwa Allane. Akhirnya terjadilah pertempuran kecil yang memakan korban hampir seluruh pasukan Pattasiwa Huamual, dimana mereka dipotong dan dicincang halus-halus, akibatnya tempat itu diberi nama Ulatete yang artinya dincang halus-halus. Nama itu hingga sekarang masih tetap disebut.

Rombongan keluarga sembilan akhirnya melanjutkan perjalanannya mempertahankan sopa-sopa melawan arus dan gelombang yang deras lalu akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang diberi nama “Hato Allana”/Hato Allang. Atas perintah pimpinan tertinggi maka dibangunlah rumah-rumah tempat tinggal dan bekerja untuk mencari makanan. Disini mereka tinggal selama 7 (tujuh) tahun.

Di Hato Allang sebenarnya para datuk leluhur merasa puas dan senang akan tetapi sering terjadi peristiwa-peristiwa yang menimpa keluarga seperti anak-anak dimakan buaya, tenggelam di laut, serta bergabungnya beberapa keluarga baru, seperti Keluarga SOHILAIT dari Luhutubang (Manipa), Keluarga KAYA dari Maulana dan Keluarga MAUWA dari Banda. Atas pertimbangan-pertimbangan itulah maka diputuskan untuk segera melanjutkan perjalanan mencari tempat yang lebih baik lagi.

Perjalanan para datuk leluhur kita telah mencapai 33 tahun lamanya (1452-1485). Bergabungnya tiga keluarga tersebut dengan tujuan yang sama yaitu mencari tempat baru yang lebih layak bagi anak cucu mereka dikemudian hari. Seperti Keluarga Kaya yang datang dari pulau Maulanan dibawah pimpinan Kapitan Iyal Huana Riler Kaya”, sedangkan Keluarga Mauwa datang dari Banda yang mana dalam pelayarannya mereka terdampar di Hato Allang. Keluarga Sohilait semula melarikan diri dan berpindah dari kota Tuban Jwa Timur setelah pecah perang Majapahit, yang mana dalam pelayarannya mereka terdampar di Pulau Manipa dan tinggal disana dan kemudian memberi nama tempat itu Luhutubang hingga sekarang.

Akan tetapi sebelum para datuk leluhur kita meninggalkan tempat yang penuh susu dan air madu itu, mereka menyadari sungguh bahwa apa yang mereka peroleh selama ini sejak perjalanan mereka hingga pertempuran melawan pasukan Pattasiwa Huamual serta tantangan lainnya semata-mata adalah karena kasih Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu sebagai tanda ucapan syukur keluarga datuk leluhur dibuatlah suatu mezbah pengucapan syukur dengan menyusun batu menyerupai sebuah tugu peringatan dari batu-batu tuni atau batu hitam dan diberi nama “Hato Al Lana” yang mengandung arti : Hato…..= Batu, Al……= Allah dan Lana……= lindung/tadah/bungkus. Sehingga arti dan tujuan dari nama tempat tersebut adalah “Batu peringatan akan besarnya Kasih Allah kepada seluruh keluarga sembilanselama dalam perjalanan mereka meninggalkan kampung halamannya dalam menghadapai berbagai tantangan dan rintangan satu demi satu, hanya Allah saja yang mereka percaya bahwa hanya ada satu Allah yang hidup yang dalam tanganNya datuk leluhur terpelihara.” (ini terjadi pada tahun 1485)

Tibalah saatnya saatnya datuk leluhur kita meninggalkan kampung Hato Allang dan bukan lagi sembilan keluarga melainkan dua belas keluarga dan lima Kapitan yakni : Kapitan Maheri Sabandar, Kapitan Hatu Rosu dari Siwalette, Kapitan Samala Nussy, Kapitan Adam Tapilatu dari Huwae, dan Kapitan Iyal Huana Riler Kaya.

Mereka berangkat menyisir pantai Huamual dan setiap tempat yang disingahi selalu diberi nama seperti: Tapinalu, Erang, Telaga, Hatoaluta, dan Sial. Setelah rombongan datuk leluhur tiba di sebuah Tanjung yang diberi nama Tanjung Sial, karena banyak batu-batu bertebing tinggi dan terjal, serta ombak-ombak besar yang memukul tersebut, sehingga terlihatlah oleh pimpinan rombongan sebuah pulau terbentang didepan mereka dalam keadaan yang samar-samar, karena terbungkus oleh awan di pagi hari. Lalu melalui perundingan diputuskan untuk berlayar menuju pulau tersebut, mereka dibawa oleh arus dan angin dan terdampar disebuah pelabuhandan singgahlah rombongan datuk leluhur dengan keluarga satu per satu.

Ditempat tersebut, datuk mengetahui bahwa sudah ada penduduk yang mendiami tempat tersebut dibawah pimpinan seorang Kapitan yang terkenal dan yang berhati mulia. Oleh pimpinan Kapitan Maheri, dan Kapitan Hatu Rosu melaporkan diri dan rombongan kepada Kapitan Hitu yang saat itu dikenal bernama Kapitan Tulukabessy tentang maksud dan tujuan datuk leluhur kita dalam perjalanan mereka. Sesudah melapor dan menjawab semua pertanyaan Kapitan Hitu, maka Kapitan Hitu dengan hati serta tgan terbuka menerima pimpinan rombongan den seluruh keluarganya dan menjalin rasa persaudaraan sebagai adik dan kakak kandung hidup saling berdampingan dan saling mengasihi satu dengan yang lain antara Hitu dan Allang sebagai adik dan kakak. Lalu merekapun berjabatan tangan dengan janji untuk hidup berdampingan satu dengan yang lainnya, dengan memberi kuasa kepada Kapitan Maheri untuk memilih dengan sesuka hati tempat di sepanjang pesisir Hitu hingga tanjung asamjawa Asilulu. Kapitan Hitu memberi kuasa kepada Kapitan Maheri untuk menguasai Hitu bagian Selatan, sedangkan Hitu bagian Utara dikuasai oleh Kapitan Hitu. Kemudian Kapitan Hitu Tulukabessy memberi gelar kepada pimpinan Kapitan Maheri dengan julukan “Raja Timur Pahlawan Allang”

Sesudah prjanjian dan pemberian kuasa dilakukan, maka rombongan datuk leluhur meninggalkan tempat itu berangkat menuju pesisir pantai jasirah Leihitu bagian selatan, dan mereka tiba di suatu tempat bernama “Lai”. Dari tempat ini rombongan melanjutkan perjalanan menyusur tepi pantai kemudian tiba disebuah pelahuan yang kemudian diberi nama “Tapi”. Ditempat ini rombongan tinggal untuk beberapa waktu guna mencari makanan. Akan tetapi suatu ketika anak perempuan dari Kapitan Darat “Siwalette” kehilangan satu helai kain sarungnya yang diambil oleh orang tak dikenal maka terjadilah keresahan dan kegelisahan bagi keluarga Siwalette, sehingga oleh pimpinan rombongan diputuskan melalui musyawarah untuk meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah timur pesisir pantai. Dalam perjalanan rombongan datuk leluhur yang dibawa arus dan angin, tibalah mereka disebuah pelabuhan yang sungguh menarik hati bagi pimpinan rombongan dan keluarganya. Maka diputuskan untuk berhenti dan tinggal untuk seterusnya. Sehingga tempat itu diberi nama “N a m a n a” yang mengandung arti “Berhenti”.

Nama untuk negeri yang diberikan datuk leluhur kita kini disebut dengan nama “Allang Lama” sedangkan Namana hanya disebut dalam acara bahasa tanah/bahasa asli untuk leluhur kita. Perjalanan panjang datuk leluhur kita dan keluarganya, tampaknya akan berakhir sudah, sebab tekad para datuk dengan keluarga untuk tidak pindah lagi sebagai wujud dari nama yang diberikan bagi tempat tersebut, apalagi pekerjaan-pekerjaan seperti cocok tanam dan keadaan sekitar tempat tinggal cukup bagus untuk masa depan. Namun dipihak lain ganjalan yang menimpa keluarga para datuk justru datangnya dari penduduk asli yang dikenal dengan Alifuru berkeliaran dipedalaman sekitar tempat tinggal datuk leluhur. Mereka mendiami tujuh buah kampung sekitar pegunungan terdiri dari marga : MANUHUA,RALAHALU,SIPAHELUT,LOUPULUA,dan LALIHATU dengan Kapitannya Urbanus Lalihatu yang datang dari Negeri Lima bergabung dengan keluarga-keluarga diatas.

Keluarga datuk leluhur merasa terganggu, sehingga mereka ingin pindah tinggal tempat tersebut. Namnun atas kebijakan Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu, keluarga datuk dapat diyakinkan dan berjanji akan turunkan keluarga asli untuk bergabung dengan keluarga datuk leluhur. Usaha ini mulanya ditantang oleh penduduk asli hingga hampir-hampir terjadi bentrokan, akan tetapi melihat keberanian dan ketangguhan datuk dibawah semangat sumpah setia, maka penduduk asli kahirnya menyerah dan mau bergabung dan keluarga datuk leluhur dan bersedia dibawa pulang untuk disatukan dengan keluarga datuk leluhur kita. Semua kampung yang ditinggalkan adalah : Hina Muang, Hina Siung, Hina Mutua, Hina Haang, Hina Laeng, dan Hina Latal. Dengan bergabungnya lima keluarga asli penduduk negeri Allang berarti telah bertambah menjadi Tujuh Belas Keluarga di bawah pimpinan Kapitan Maheri dan Kapitan Hatu Rosu. Perjalanan keluarga datuk leluhur kita telah mencapai 45 Tahun (1452-1497)

Rasa kesetiakawanan yang sangat mendalam ditunjukan oleh kelaurga-keluarga ini, sehingga membesarkan hati kedua tokoh pimpinan rombongan. Namun disuatu waktu terjadi keresahan karena anak-anak sebagai generasi penerus mengalami musibah seperti tenggelam di sungai, hanyut dan mati karena terbawa banjir, mati karena dimakan buaya serta peristiwa-peristiwa lainnya. Hal ini menyebabkan keluarga meminta kepada pimpinan rombongan agar pindah dari tempat tersebut walau telah disepakati agar tidak lagi pindah. Permintaan tersebut ditantang dan ditolak oleh keluarga penduduk asli dengan alasan bahwa mereka telah bergabung dengan keluarga pendatang dan telah diturunkan dari kampung di pedalaman dan tetap tidak mau untuk pindah. Apabila penduduk pendatang ingin berpindah dari tempat itu, maka terlebih dahulu kami harus dikembalikan ke tempat asal di pedalaman. Persoalan ini semakin meruncing hingga hampir terjadi bentrokan.

Disaat pertengkaran makin memuncak yang menjurus kepada kekerasan, hadirlah keluarga KAYA yang dikenal sebagai Kapita Iyal Huana Riler Kaya sambil menegur katanya: “Bukankah kita semua telah dipersatukan sebagai saudara kandung se ibu se bapak dan hidup dibawah sumpah setia, baiklah persoalan ini kita serahkan kepada pemimpin kita untuk memutuskan karena setiap keputusan pemimpin selalu adil dan bijaksana dan dapat diterima oleh semua pihak”.

Akhirnya musyawarah besar antara keluarga dua belas dengan keluarga penduduk asli dilaksanakan dibawah pimpinan Kapitan Maheri Sabandar dan Kapitan Hatu Rosu dan didampingi oleh Kapitan Adam Tapilatu, Kapitan Samala Nussy, Kapitan Iyal Huana Riler Kaya, dan Kapitan Urbanus Lalihatu. Musyawarah tersebut melahirkan keputusan : “Demi generasi penerus/ demi kepentingan kelanjutan hidup anak cucu keluarga dikemudian hari setelah mempertimbangkan semua pendapat dan saran maka keluarga harus pindah dari tempat tersebut”. Dan perpindahan keluarga dilakukan dengan mengundi atau dengan kata lain tempat itu ditentukan dengan cara melempar sebuah tombak bernyala dengan syarat dimana ujung tombak tertancap ke bumi, diditulah akan dibangun tempat tinggal baru bagi keluarga untuk selamanya. Apapun yang terjadi baik atau buruk susah atau senang akan kita hadapi bersama-sama secara Masohi dibawah sumpah setia “K a h o r i ”

Pemimpin rombongan memerintahkan mengambil tiga buah kuming kelapa kering dan diikat menyerupai tombak, kemudian malan hari ujungnya dibakar lalu Kapitan Maheri sendiri yang melemparnya. Saat pelemparan tombak, diperintahkan semua laki-laki mencari tombak tersebut, dan pada pagi harinya salah seorang laki-laki dari keluarga Kapitan Adam Tapilatu Huwae menemukan tombak tersebut dengan ujungnya masih bernyala tertancap di tanah (ditengah-tengah rumah adat Baileo sekarang) dan ujungnya (berada di gereja sekarang). Disinilah tempat itu dijadikan sebagai pusat Negeri Allang, jerih payah datuk leluhur kita yang diwarikan kepada anak cucu sekarang dan yang akan datang.

Penemuan Negeri Allang tercinta yang kemudian disusul dengan peletakan batu pertama serta nama negeri yang diberikan datuk leluhur sebagai wujud rasa syukur atas kebesaran Kasih Allah Yang Maha Kuasa kepada datuk leluhur kita yang sejak memulai perjalanan meninggalkan kampung halamannya di Kepulauan Maluku Utara dengan segala suka dukanya selama 45 tahun (1452 – 1497) kini telah dapat berteduh hati karena perjalanan panjang mengarungi lautan dan daratan telah berakhir dengan selamat.

itulah sebabnya walaupun saat itu datuk leluhur belum mengenal suatu agama tetapi kepercayaan datuk hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, satu-satunya penolong hidup mereka sehingga nama dari negeri waktu itu disebut : “A L L A N A” yang mengandung arti: Allah telah menolong, Allah telah melindungi, Allah telah membungkus. Nama dari negeri ini terdiri dari dua suku kata yaitu Al dan Lana. Al artinya Allah dan Lana artinya Lindungi, Tolong dan bungkus.

kini datuk leluhur memasuki perjuangan baru dengan membangun negeri tercintadengan semangat Masohi sebagai warisan untuk anak cucu yang akan kita ikuti bersama dengan segala suka dukanya.

Negeri Allang hingga saat ini terbuka untuk semua golongan dan kalangan yang ingin datang dan mencari hidup baru yang lebih baik asal tidak mempunyai maksud-maksud jahat, maka usaha dan pekerjaan kita pasti akan diberkati oleh Tuhan. Saat ini ada banyak keluarga yang telah menetap bahkan mungkin hanya tinggal sementara karena menikah /kawin dengan orang Allang di Negeri Allang diantaranya: PATTY, HUWAE, SOHILAIT, SIWALETTE, RALAHALU, HALAWANE, KAIYA, SIPAHELUT, LALIHATU, SABANDAR, MAUWA, LOUPULUA, PELASULA, PELAHULE, LOPUMETEN, SAPAKOLY, PATTYSAPAKOLY, KAIPATTY, MANUHUA, NUSSY, SOUMAHU, HEHANUSSA, de FRETES, LAMBIOMBIR, BATMOMOLIN, RIEUWPASSA, PELAPORY, MARANTIKA, WALANGSENDOU, PATTIPEILOHY, MALAWAU, HAUMAHU, HATTU, WARAHUWENA, HUKOM, LESTALUHU, NOYA, FERDINANDUS, RIRY, TUHUMURY, AKOLLO, SIHASALE, ALKIHARY, SEPTORY, TALAHATU, DELANGHALA, serta beberapa keluarga lainnya.

Sejarah ini dikutip dari dalam naskah asli yang tersimpan dalam arsip Pemerintah Negeri Allang oleh Almarhum Bpk. ZADRACK KAIPATTY, sewaktu almarhum menjabat sebagai Sekretaris Pemerintah Allang Tahun 1915.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: